MUKTAMAR VIII BKMT TAHUN 2016

 INFO BKMT PUSAT

Membuat M.O.U dengan Baznas

 tasyakur-akbar-milad-bkmt      Memasuki usia 35 tahun, Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) akan menggelar Muktamar ke-8 di Jakarta pada 9-13 Maret 2015. Sejumlah agenda penting akan dibahas, di antaranya soal penambahan program.

seminar-muktamar

Ketua Umum BKMT Prof Dr Tutty Alawiyah AS mengatakan, saat ini organisasi yang dipimpinnya baru memiliki beberapa bidang program. “Yaitu dakwah, pendidikan, kerja sama, sosial, ekonomi, dan kesehatan. Nanti program ini akan kita tambah,” ujarnya saat memberikan sambutan pada acara Silaturahim Pra Muktamar di kediamannya, Jatiwaringin, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (9/3) malam.

Dalam acara yang dihadiri pengurus dan perwakilan BKMT dari seluruh Indonesia itu, Tutty mengaku sangat bersyukur sekaligus bangga organisasinya dapat eksis dan telah berusia 35 tahun pada Januari lalu. Jumlah anggotanya pun telah mencapai belasan juta di seluruh Indonesia. Padahal, pada masa-masa awal berdirinya, BKMT hanya menghimpun 372 majelis taklim se-Jabodetabek. “Alhamdulillah, sampai sekarang terus berkembang, dari Aceh sampai Papua,” katanya menuturkan.

Tutty pun mengapresiasi kehadiran para anggota dan pengurus BKMT dari seluruh di Indonesia. “Kita ucapkan terima kasih pada utusan-utusan dari daerah. Saya berterima kasih karena jumlahnya mencapai 2.700 (orang) dari daerah,” ujarnya.

Selain muktamar, BKMT juga akan menggelar Kongres Himpunan Seni Budaya Islam dan seminar internasional. Rangkaian kegiatan muktamar akan diakhiri dengan dakwah wisata ke Sentul, Jawa Barat, yang diikuti seluruh peserta muktamar pada Ahad (13/3) mendatang.

0301-ketua-umum-bkmt

Pada bagian lain sambutannya, Tutty menegaskan, peran kaum ibu dalam majelis taklim perlu ditingkatkan. “Jadi ibu-ibu jangan khawatir, jangan ada di kelas dua, jangan hanya ada di belakang, apalagi cuma di dapur, sumur, kasur. Kita punya peran sangat banyak, penting, dan strategis. Kita adalah tiang negara,” ujarnya.mantan-perdana-menteri-malaysia-mahathir-mohamad-tampil-sebagai-keynote-_160310145144-564-735x400

Harus evaluasi diri

Pada seminar internasional yang diselenggarakan BKMT di Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA), Jatiwaringin, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (10/3), mantan perdana menteri Malaysia Mahathir Mohamad mengatakan, Islam sedang mengalami keterpurukan yang disebabkan oleh tindakan umat Islam sendiri.

Menurut Mahathir, meski banyak orang mengaku sebagai Muslim, sikap mereka tidak mencerminkan sebagai seorang Muslim. Mereka tidak mengamalkan ajaran Islam yang sebenarnya. “Apabila banyak yang melihat keburukan karena mengatasnamakan Islam, itu bukanlah Islam yang buruk, tetapi oknum manusianya yang sudah membuat citra Islam jadi rusak,” ujar Mahathir dalam seminar internasional bertema “Islam, Keadilan dan Perdamaian: Transformasi Menuju Dunia Baru yang Berkeadilan” tersebut.

Menurut Mahathir, hal yang menyebabkan negara Islam tidak bisa bersaing dengan negara-negara Barat karena umat Islam sendiri tidak bisa mengamalkan apa yang diperintahkan agamanya. Islam, menurut dia, bukan sekadar kepercayaan, bukan pula hanya membicarakan tentang ibadah. Lebih jauh, Islam berbicara tentang cara hidup. “Saya khawatir, tindakan yang kita lakukan sebenarnya tidak sesuai dengan ajaran-ajaran Islam, makanya citra Islam menjadi hancur,” ujarnya.

bkmt3

Mahathir mencontohkan, Islam mengajarkan umatnya untuk saling menjaga persaudaraan dan tali silaturahim dengan sesama manusia, khususnya sesama Muslim. Namun ironisnya, di Timur Tengah, negara-negara Islam justru saling membunuh dan menghancurkan. Bahkan, masyarakatnya pun pergi dari negara mereka dan memilih untuk menetap di negara yang bukan Islam.

Maka untuk mencapai perdamaian, Mahathir berpendapat, umat Islam harus mau mengevaluasi diri. Potret buram Islam saat ini sejatinya diciptakan oleh umat Islam itu sendiri. Mengoreksi diri akan jauh lebih baik daripada sibuk menyalahkan orang lain, dalam hal ini orang-orang non-Muslim. “Kita harus kaji kembali perbuatan kita, kepercayaan kita, apakah sudah lurus atau masih melenceng,” ujar Mahathir.

Pada forum yang sama, mantan penasihat presiden Afrika Selatan, Rydwan Rylans, menyoroti tentang Islamofobia yang merebak di negara-negara Barat. Menurutnya, umat Islam harus melawan Islamofobia dengan cara-cara yang sesuai dengan ajaran Islam. “Sebagai Muslim kita tidak boleh melawan Islamofobia dengan cara kekerasan,” ujar Rydwan.

Syifa Fauzia

Hj. Syifa Fauzia, Sebagai Ketua Pelaksana Acara Tasyakur Akbar MIlad 35 Tahun Gelora Bung Karno Senayan Jakarta

Sebaliknya, kata dia, umat Islam harus menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang indah dan dirahmati oleh Allah SWT.   rep: Retno Wulandhari, c23, ed: Wachidah Handasah

Author: 

No Responses

Leave a Reply